DEMAK – Pemerintah Kabupaten Demak terus berupaya menghidupkan dan menaikkan kelas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan mengintegrasikannya ke sektor wisata religi yang menjadi kekuatan daerah. Hal tersebut disampaikan Bupati Demak, dr. Hj. Eisti’anah, dalam dialog bersama pelaku UMKM dan sejumlah perangkat daerah.
Bupati Eisti’anah mengatakan, Pemkab Demak telah memfasilitasi UMKM agar lebih berkembang, meski belum dilakukan secara masif. Melalui pertemuan lintas sektor, pemerintah berupaya mempertemukan pelaku UMKM dengan dinas terkait guna menggerakkan ekonomi kreatif.
“Kami ingin UMKM di Kabupaten Demak ini tidak hanya dikenal oleh masyarakat lokal, tapi juga oleh masyarakat luas. Apalagi Demak memiliki potensi wisata religi yang besar,” ujar Bupati.
Menurutnya, wisata religi memiliki daya tarik tersendiri karena bersifat berkelanjutan. Berbeda dengan wisata buatan atau alam yang biasanya dikunjungi satu atau dua kali, wisata religi memungkinkan wisatawan datang berulang kali.
“Keberkahan dari para leluhur kita ini menjadi daya tarik. Kalau wisata religi, orang bisa datang berkali-kali. Di situlah UMKM bisa terus hidup,” jelasnya.
Namun demikian, Bupati mengakui masih terdapat tantangan, salah satunya keterbatasan anggaran. Pemkab Demak saat ini masih memprioritaskan penanganan wilayah pesisir yang terdampak rob dan abrasi, tanpa mengesampingkan penataan kawasan wisata.
“Konsep pengembangan jalur wisata itu sudah ada, tapi kita harus bertahap. Saudara-saudara kita di pesisir juga perlu perhatian serius,” tegasnya.
Ia menyebutkan, Pemkab Demak terus berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terkait pembangunan hybrid sea wall di wilayah pesisir. Pada tahun 2026, Provinsi Jawa Tengah telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp10 miliar untuk pembangunan sistem penahan ombak berbasis pemecah gelombang dan mangrove di Demak.
“Kalau hybrid sea wall ini sudah berjalan, ini menjadi penahan sebelum giant sea wall. Masyarakat sangat membutuhkan ini,” ungkapnya.
Selain penanganan pesisir, Pemkab Demak juga fokus pada normalisasi sungai dan penataan drainase perkotaan. Salah satunya normalisasi Sungai Bonang yang dianggarkan melalui APBD sebesar Rp3 miliar pada tahun ini.
“Kami sudah instruksikan Dinas PU untuk segera melaksanakan normalisasi, terutama di hilir, sesuai permintaan masyarakat,” kata Eisti’anah.
Ia menambahkan, meski sungai merupakan kewenangan BBWS, Pemkab Demak tetap turun tangan demi meringankan beban masyarakat. Normalisasi juga direncanakan berlanjut hingga ke hulu sungai melalui anggaran perubahan.
Dalam kesempatan itu, Bupati juga menyinggung konsep penataan kawasan wisata religi “segitiga emas” yang menghubungkan Masjid Agung Demak, Makam Sunan Kalijaga Kadilangu, dan kawasan Tembiring, termasuk penataan area parkir dan pujasera UMKM.
“Pujasera dan UMKM di sekitar kawasan wisata sudah mulai kami tata. Setelah penanganan pesisir berjalan, fokus akan kami lanjutkan ke sektor wisata dan UMKM secara bergantian,” pungkasnya.






