DEMAK – Komisi D DPRD Provinsi Jawa Tengah meninjau langsung program rumah apung di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Selasa (11/11/2025). Kunjungan kerja yang dipimpin Ketua Komisi D Hj Ida Nursa’dah SPdI MH itu bertujuan meninjau implementasi inovasi perumahan di kawasan yang telah bertahun-tahun terdampak rob.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan legislatif didampingi pejabat dari Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperakim) Jateng serta Dinas Perumahan dan Permukiman (Dinperkim) Kabupaten Demak. Mereka meninjau langsung konstruksi rumah apung yang dibangun di tengah genangan air rob, sekaligus berdialog dengan warga penerima bantuan.
Hj Ida Nursa’dah mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Demak yang menggagas rumah apung sebagai solusi adaptif terhadap perubahan lingkungan di wilayah pesisir. “Program ini menjadi model penanganan rob yang sangat relevan. Rumah apung bukan hanya tempat tinggal, tapi juga bentuk adaptasi cerdas terhadap kondisi alam,” ujarnya.
Menurutnya, dari hasil tinjauan di lapangan, lima unit rumah apung telah selesai dibangun dan sepuluh unit lainnya sedang dalam tahap penyelesaian. Sebagian besar dibiayai melalui APBD Kabupaten Demak dan swadaya masyarakat, sementara tiga unit lainnya merupakan kontribusi CSR dari Bank Jateng. Setiap rumah menelan biaya sekitar Rp120 juta.
“Melihat hasilnya, kami akan mendorong agar program seperti ini dianggarkan kembali pada APBD Provinsi Jawa Tengah tahun 2026. Dengan begitu, cakupan bantuan bisa lebih luas dan dirasakan lebih banyak warga,” tegasnya.
Selain itu, Komisi D juga menyoroti pentingnya dukungan sarana transportasi bagi warga pesisir. Kondisi genangan yang permanen membuat akses ke pemukiman sulit ditembus kendaraan darat. “Kita akan cari solusi bersama, baik melalui kerja sama antarlembaga maupun lewat CSR perusahaan,” tambah Ida.
Kepala Desa Timbulsloko, Nadhiri, menyampaikan bahwa desanya kini dihuni sekitar 1.100 kepala keluarga yang hidup di kawasan rob. “Di Dukuh Timbulsloko ada sekitar 140 KK, sementara di Dukuh Bogorame 50 KK. Sebagian besar sudah tidak bisa lagi menempati rumah permanen karena terendam. Rumah apung ini membawa harapan baru bagi kami,” ungkapnya.
Program rumah apung di Demak ini kini menjadi perbincangan di tingkat provinsi karena dinilai mampu menjawab tantangan permukiman di kawasan pesisir utara Jawa. Tak hanya sebagai proyek percontohan, inisiatif tersebut diharapkan menjadi inspirasi bagi daerah lain yang menghadapi ancaman serupa akibat kenaikan muka air laut.
Dengan semangat gotong royong dan dukungan lintas sektor, rumah apung Timbulsloko menjadi simbol ketahanan masyarakat pesisir menghadapi perubahan iklim. Warga pun optimistis, di tengah air yang terus naik, harapan mereka untuk tetap tinggal di tanah kelahiran tak akan surut.(*)








