Warga disuguhi atraksi silat dari PSHT, tembang “Ilir-Ilir”, dan doa bersama yang dipimpin sesepuh Kadilangu. Nasi ancak kemudian diperebutkan warga demi berkah.
Plh. Bupati Demak didampingi forkopimda memukul gong secara simbolis, disusul dengan menyuapi perwakilan warga sebagai simbol kepedulian pemimpin kepada rakyat. Hadir pula suami Bupati Demak, Ketua DPRD beserta istri, Dandim dan Kapolres Demak beserta istri, Ketua PN, perwakilan Kejari, Sekda beserta istri, para asisten, camat, kepala OPD, serta tokoh masyarakat lainnya.
Setelah prosesi Ancakan, acara dilanjutkan dengan iring-iringan Tumpeng Sembilan dari Pendopo Kabupaten menuju Serambi Masjid Agung Demak. Tumpeng ini melambangkan sembilan Wali Songo dan menjadi bentuk penghormatan atas perjuangan mereka dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.
Sesampainya di Masjid Agung, tumpeng didoakan dan dibagikan kepada warga. Tradisi ini ditutup dengan pengajian bertema “Melestarikan Budaya dengan Agama untuk Kesejahteraan Bersama”.
Dalam laporannya, Ketua Takmir Masjid Agung menuturkan bahwa tradisi ini telah berlangsung sejak abad ke-16, sebagai wujud akulturasi antara budaya Arab dan Jawa. Pada kesempatan yang sama, Kepala Kemenag Demak menambahkan bahwa prosesi ini merupakan bagian dari upaya menghidupkan Lailatul ‘Ied melalui dzikir dan doa.
Sementara itu, Plh. Bupati Demak menegaskan pentingnya merawat tradisi ini sebagai benteng budaya serta perekat karakter masyarakat Demak yang agamis dan harmonis. Pengajian juga menjadi momentum doa bersama untuk Ibu Bupati Demak yang tengah menunaikan ibadah haji.
Dengan demikian, tradisi ini bukan sekadar peristiwa budaya, tetapi juga penguat spiritualitas serta kebersamaan masyarakat Demak yang penuh makna. (*)









