JATENGUPDATE.NET SEMARANG – Era digital dan kemajuan kecerdasan buatan (AI) kini membawa dampak besar terhadap hampir semua aspek kehidupan masyarakat. Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko, mengingatkan bahwa disrupsi teknologi ini bukan hanya soal efisiensi dan kecepatan, tetapi juga tentang tanggung jawab moral dan sosial dalam penggunaannya, terangnya pada Sabtu (8/11).
Menurut Heri, perkembangan teknologi digital seperti AI generatif, otomasi industri, hingga algoritma media sosial, telah mengubah pola hidup, pekerjaan, dan interaksi sosial manusia.
Namun, perubahan besar ini juga menghadirkan tantangan baru seperti penyebaran disinformasi, pelanggaran privasi, dan penyalahgunaan teknologi untuk konten negatif.
“Teknologi tidak bisa kita tolak, tapi kita bisa mengarahkannya. Tantangannya bukan pada alatnya, melainkan pada manusianya, bagaimana kita menggunakan teknologi untuk membangun, bukan merusak,” ungkapnya.
Ia mencontohkan maraknya kasus deepfake dan penyalahgunaan AI di ruang digital, yang sering kali berdampak pada reputasi dan keamanan individu. Fenomena ini, kata Heri, harus menjadi peringatan bahwa literasi digital masyarakat belum seimbang dengan laju inovasi teknologi.
“Banyak orang sudah bisa memakai teknologi, tapi belum banyak yang memahami etikanya. Literasi digital harus mencakup aspek moral, bukan hanya teknis,” tegasnya.
Heri menilai, peran pemerintah dan lembaga pendidikan sangat penting dalam membangun budaya digital yang beretika dan berdaya guna.
Menurutnya, pendidikan digital di sekolah maupun kampus seharusnya tidak berhenti pada kemampuan mengoperasikan perangkat, tetapi juga mengajarkan tanggung jawab sosial, keamanan data, dan empati digital.
Selain itu, ia juga mendorong pemerintah daerah di Jawa Tengah untuk membangun regulasi yang adaptif dan protektif terhadap risiko disrupsi teknologi. Ia menekankan perlunya sinergi antara DPRD, Pemprov, dan komunitas digital dalam merancang kebijakan berbasis perlindungan masyarakat.
“Kita tidak boleh gagap menghadapi perubahan. Justru sekarang saatnya pemerintah daerah ikut mengawal agar transformasi digital berjalan manusiawi dan adil,” ungkapnya.
Heri juga menyoroti pentingnya mendukung UMKM dan sektor pendidikan agar tidak tertinggal di tengah era otomatisasi. Ia menyebut, pelatihan digital, adaptasi teknologi tepat guna, dan perlindungan tenaga kerja menjadi langkah penting untuk mencegah kesenjangan ekonomi akibat AI.
“Kalau kita tidak siap, AI bukan hanya menggantikan pekerjaan, tapi juga bisa menggerus nilai kemanusiaan kita. Karena itu, masyarakat perlu punya kesadaran bahwa teknologi hanyalah alat, bukan pengganti nurani,” tutur politisi yang akrab disapa Heri Londo itu.
Heri berharap agar Jawa Tengah dapat menjadi provinsi yang cerdas secara digital dan beretika secara sosial. Menurutnya, kemajuan teknologi akan menjadi berkat bila dijalankan dengan kesadaran, empati, dan nilai kemanusiaan yang kuat.
“Teknologi seharusnya memperkuat rasa kemanusiaan, bukan menghapusnya. Maka, bijaklah dalam setiap klik, sebab masa depan kita ditentukan dari cara kita menggunakan teknologi hari ini,” pungkasnya. (ida)









