JATENGUPDATE.NET SEMARANG – Upaya menjaga keseimbangan ekologi di Jawa Tengah dinilai masih menghadapi tantangan serius, terutama di wilayah pegunungan dan daerah aliran sungai (DAS) yang mengalami degradasi lahan cukup parah.
Menyikapi hal ini, Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Heri Pudyatmoko menegaskan pentingnya memperkuat kembali program reboisasi kawasan kritis sebagai upaya “menghijaukan” Jateng secara berkelanjutan.
Menurut Heri, keberlanjutan lingkungan tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan seremonial tahunan seperti penanaman pohon massal. Ia menekankan perlunya sistem monitoring dan kolaborasi lintas sektor, agar upaya penghijauan tidak berhenti pada kegiatan simbolik, ujarnya Sabtu (8/11).
“Reboisasi bukan sekadar menanam, tapi memastikan pohon tumbuh, mengikat air, dan menjaga kehidupan masyarakat sekitar hutan. Ini soal ekosistem sosial dan ekonomi, bukan hanya soal lingkungan,” ujarnya.
Heri menjelaskan, Jawa Tengah memiliki sekitar 266 ribu hektare lahan kritis, berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jateng tahun 2025. Sebagian besar berada di kawasan pegunungan seperti Wonosobo, Banjarnegara, dan Blora.
Lahan yang gundul tersebut memperparah risiko banjir, longsor, dan kekeringan, terutama saat musim ekstrem melanda.
“Kawasan hulu seperti Merbabu, Sindoro-Sumbing, dan Lawu harus jadi prioritas reboisasi. Pemerintah daerah perlu berani menggandeng pesantren, sekolah, komunitas pecinta alam, hingga kelompok tani hutan dalam gerakan yang nyata,” tambahnya.
Ia juga mendorong agar program reboisasi diintegrasikan dengan agenda ekonomi hijau, seperti agroforestri dan wisata alam berbasis konservasi.
Dengan cara itu, masyarakat sekitar hutan tidak hanya menjadi pelaksana, tetapi juga penerima manfaat langsung dari lingkungan yang lestari.
“Kita bisa jadikan reboisasi sebagai peluang ekonomi hijau baru. Misalnya, melalui penanaman pohon produktif seperti kopi, alpukat, atau aren yang bernilai ekonomi dan sekaligus menjaga tanah,” kata Heri.
“Pembangunan fisik boleh tumbuh, tapi tanpa ekosistem yang sehat, semuanya akan rapuh. Reboisasi adalah investasi jangka panjang bagi generasi mendatang,” tegasnya.
Program reboisasi yang berkelanjutan diharapkan mampu menjadi fondasi kuat bagi ketahanan lingkungan Jawa Tengah. Hal ini, katanya, juga bisa memperkuat daya dukung daerah dalam menghadapi perubahan iklim global yang semakin nyata dampaknya. (ida)









