JATENGUPDATE.NET SEMARANG – Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko, mengapresiasi capaian kinerja ekspor Jawa Tengah yang terus menunjukkan tren positif di tengah dinamika ekonomi global.
Ia mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama para pelaku usaha agar terus menjaga momentum pertumbuhan tersebut dengan memperkuat sektor-sektor unggulan ekspor daerah, pada Minggu (9/11).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Jawa Tengah pada Agustus 2025 mencapai 1.093,49 juta dolar AS, meningkat 3,09 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Peningkatan ini terutama disumbang oleh sektor industri pengolahan yang tumbuh 9,84 persen, serta pertambangan dan lainnya yang naik 25,90 persen. Sementara itu, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mengalami penurunan sebesar 43,65 persen.
“Kinerja ekspor Jawa Tengah menunjukkan semangat produktivitas dan daya saing yang kuat. Pemerintah daerah perlu menjaga tren positif ini agar memberikan dampak luas bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Heri.
Menurut Heri, peningkatan ekspor di sektor industri pengolahan menjadi indikator penting bahwa pelaku usaha di Jawa Tengah mampu beradaptasi dengan permintaan pasar global.
Namun, ia mengingatkan agar sektor pertanian dan perikanan yang menurun juga mendapat perhatian serius dari pemerintah.
“Sektor pertanian tidak boleh tertinggal. Harus ada upaya bersama untuk memperkuat rantai pasok, kualitas produk, serta membuka akses ekspor bagi hasil-hasil pertanian dan UMKM desa,” tegasnya.
BPS juga mencatat bahwa negara tujuan utama ekspor nonmigas Jawa Tengah antara lain Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, Belanda, dan Korea Selatan.
Produk unggulan seperti pakaian dan aksesoris (bukan rajutan) masih menjadi andalan dengan kontribusi 16,21 persen terhadap total ekspor nonmigas periode Januari–Agustus 2025, meski turun 11,93 persen dibanding sebelumnya. Sementara itu, pakaian rajutan naik 5,45 persen, dan alas kaki meningkat 9,22 persen.
Heri menilai, capaian ini menandakan bahwa sektor industri padat karya di Jateng masih menjadi tulang punggung ekspor daerah. Ia mendorong agar pemerintah terus memberikan insentif, kemudahan investasi, serta dukungan infrastruktur untuk memperkuat daya saing produk ekspor.
“Industri padat karya seperti tekstil, rajutan, dan alas kaki telah menyerap banyak tenaga kerja. Menjaga kestabilan ekspor berarti menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat,” kata Heri.
Sementara itu, total nilai impor kumulatif Jawa Tengah sepanjang Januari–Agustus 2025 tercatat menurun 6,78 persen atau mencapai 9.393,66 juta dolar AS.
Bagi Heri, penurunan ini dapat menjadi sinyal positif terhadap efisiensi produksi dalam negeri, meskipun perlu terus dikaji agar tidak berdampak pada pasokan bahan baku industri.
“Kinerja ekspor yang naik dan impor yang menurun menunjukkan keseimbangan ekonomi yang mulai membaik. Namun, pemerintah tetap harus memastikan bahwa industri dalam negeri tidak kekurangan bahan baku,” ujarnya.
Sektretaris DPD Gerindra Jateng ini berharap tren positif ini dapat terus berlanjut hingga akhir tahun dengan sinergi kuat antara pemerintah, pelaku industri, dan dunia usaha.
“Dengan kerja sama yang baik, Jawa Tengah bisa menjadi salah satu motor ekspor nasional dan menjaga stabilitas ekonomi di tengah tantangan global,” pungkas Heri Londo, sapaan akrabnya. (ida)









