JATENGUPDATE.NET SEMARANG – Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko, menyerukan pentingnya penanaman budaya anti-perundungan (anti-bullying) di lingkungan masyarakat.
Ia menegaskan, tindakan perundungan, baik secara verbal, fisik, maupun melalui media sosial, dapat menimbulkan dampak serius bagi psikologis dan masa depan korban.
Menurut Heri, perundungan bukan hanya masalah di sekolah, tetapi juga telah meluas ke ruang publik dan media digital. Karena itu, semua pihak harus berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang aman dan menghargai perbedaan, jelasnya pada Minggu (9/11).
“Budaya anti-perundungan harus ditanamkan sejak dini. Kita tidak boleh membiarkan sikap mengejek, merendahkan, atau mengucilkan menjadi hal yang dianggap biasa. Dampaknya bisa menghancurkan kepercayaan diri dan masa depan seseorang,” ujar dia.
Ia menegaskan, korban perundungan sering mengalami trauma berkepanjangan yang memengaruhi perkembangan sosial, prestasi belajar, bahkan kesehatan mental mereka.
Oleh karena itu, pencegahan harus dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga dan sekolah, dengan membangun komunikasi yang terbuka dan empati terhadap sesama.
“Orang tua dan guru punya peran penting dalam mendidik anak agar menghormati orang lain. Nilai-nilai empati, toleransi, dan sopan santun harus kembali diperkuat,” tegas Heri Londo, sapaan akrabnya.
Heri juga mendorong Dinas Pendidikan dan Dinas Sosial untuk mengintensifkan program edukasi publik mengenai bahaya perundungan. Termasuk di dalamnya penyediaan layanan konseling dan pendampingan psikologis bagi korban.
“Pemerintah perlu hadir dengan kebijakan yang berpihak pada perlindungan korban dan pencegahan perundungan. Jangan menunggu kasus menjadi viral baru ditangani,” imbuh Sekretaris DPD Gerindra Jateng ini.
Selain upaya struktural, Heri menilai perubahan perilaku sosial juga menjadi kunci. Menurutnya, membangun budaya anti-perundungan berarti menumbuhkan rasa saling menghargai, peduli, dan menciptakan ruang sosial yang inklusif bagi semua.
“Lingkungan yang sehat adalah lingkungan yang saling menghormati. Dengan menumbuhkan budaya anti-perundungan, kita sedang membangun masyarakat yang lebih beradab dan berempati,” pungkasnya. (ida)









