WONOSOBO – Perubahan ke era yang semakin modern, menurut Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko, adalah seperti dua belah mata pisau. Di mana kita dituntut untuk aktif mengikuti zaman, namun juga tidak ingin menghilangkan yang selama ini kita punya.
Salah satu hal yang menjadi warisan menurutnya adalah kesenian daerah yang begitu berharga bagi bangsa ini.
Heri mencontohkan, di Wonosobo misalnya, seperti kesenian Lengger, Tari Angguk, Tari Bangilon, dan banyak lagi warisan budaya yang sangat berharga mulai berkurang diketahui dan diminati, karena ada banyak hal modern yang dianggap lebih menarik.
“Padahal, itu semua adalah yang bisa menunjukkan jatidiri kita sebagai orang Wonosobo,” ungkap Heri dalam Focus Group Discussion di Wonosobo. Tentu, menurut politis Partai Gerindra, merawat kebudayan itu semua adalah tugas kita semua sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaan.
“Saya mengajak semua warga untuk menyadari bagaimana kita tetap bisa menjaga jatidiri tersebut agar tidak direbut oleh negara lain,” terangnya.
Jika melihat beberapa tahun terakhir, menurut Heri, banyak orang yang mulai jenuh dengan modernitas. Sehingga mereka mencari hal-hal yang tradisional untuk merasakan menjadi orang daerah yang punya hal unik dan menarik.
“Ini adalah kesempatan bagi kita untuk bisa mengolah kesenian daerah menjadi daya saing, terutama dalam mengembalikan jatidiri yang mulai tergerus, serta sebagai peluang ekonomi masyarakat daerah,” tegasnya.
Heri Pudyatmoko berpesan, agar jangan berhenti belajar mengembangkan peluang dengan memadukan kemajuan teknologi informasi yang ada sehingga benar-benar menjadi bangsa yang memiliki jatidiri yang kuat dan berdaya saing. (sgt/anf)










