Demak — Kamera warga desa kini tak sekadar merekam keseharian, tetapi menjelma menjadi alat advokasi sosial yang menyuarakan realitas akar rumput. Melalui lomba video kreatif inovasi dan pemberdayaan desa, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Muria Raya membuka ruang bagi masyarakat desa Kabupaten Demak untuk berbicara tentang perjuangan, kemandirian, dan potensi yang selama ini jarang terdengar.
Puluhan karya video yang dikirimkan warga desa menampilkan beragam cerita tentang ketahanan ekonomi, pengelolaan potensi lokal, hingga peran kelompok marjinal dalam menjaga lingkungan dan menopang kehidupan desa. Dari kisah UMKM rumahan, pengelolaan sumber daya alam, hingga perempuan pesisir yang menjaga ekosistem mangrove, seluruhnya hadir sebagai narasi visual yang jujur dan autentik.
Ketua DPRD Kabupaten Demak, Zayinul Fata, menilai dokumentasi visual yang dibuat langsung oleh masyarakat desa mampu menghadirkan sudut pandang yang berbeda dari laporan formal pembangunan.
“Video-video ini memperlihatkan bagaimana masyarakat desa berjuang dengan caranya sendiri. Banyak potensi dan praktik baik yang selama ini tidak tercatat secara resmi, padahal dampaknya sangat nyata,” ujarnya saat diskusi publik dan penganugerahan pemenang lomba di Reinz Caffe, Demak, Sabtu (20/12/2025).
Ia menyebutkan, karya para peserta menjadi cermin kondisi sosial di perdesaan sekaligus pengingat bahwa pembangunan tidak selalu lahir dari program besar, melainkan dari inisiatif warga.
Salah satu video yang mencuri perhatian adalah karya Rifki dari Desa Purworejo, Kecamatan Bonang, berjudul “Perempuan Penjaga Garis Pantai”. Video tersebut mengangkat kiprah nelayan perempuan dalam melakukan pembibitan mangrove sebagai upaya menjaga pesisir dari abrasi sekaligus menambah penghasilan keluarga.
“Hal-hal sederhana yang dilakukan warga desa sebenarnya memiliki dampak besar. Lomba ini membuat cerita-cerita itu terlihat dan diakui,” kata Rifki, yang juga Kepala Desa Purworejo.
Sementara itu, Ketua IJTI Muria Raya, Iwhan, menjelaskan bahwa lomba video kreatif edisi kedua ini dirancang untuk menempatkan masyarakat desa sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar objek program.
“Kami ingin desa bercerita tentang dirinya sendiri. Video menjadi medium yang kuat untuk merekam potensi, tantangan, dan solusi yang lahir dari masyarakat,” tuturnya.
Ia berharap dokumentasi visual tersebut tidak berhenti pada ajang lomba, tetapi dapat menjadi bahan refleksi dan dorongan bagi berbagai pihak untuk memperkuat pemberdayaan desa secara berkelanjutan.
Melalui lomba ini, IJTI Muria Raya menegaskan bahwa jurnalisme dan kreativitas warga dapat berjalan beriringan dalam memperjuangkan keadilan sosial serta memperkuat suara masyarakat desa di tengah arus pembangunan.(*)









