DEMAK – Ribuan warga rela malam itu rela berdesak-desakan di seputar alun-alun Demak untuk menunggu kedatangan arak-arakan tumpeng songo yang merupakan adat budaya menjelang Grebeg Besar dimulai. Warga masyarakat ini mengantri untuk mendapatkan nasi dari tumpeng songo yang diarak dari pendopo kabupaten menuju Masjid Agung Demak.
Setelah di doakan dalam pengajian umum Grebeg Besar di masjid agung, tumpeng songo kemudian dibagikan kepada warga dan jamaah pengajian. Sebelum dibagikan Bupati Demak Hj dr Eisti’anah melakukan pemotongan tumpeng utama yang tertutup maket masjid Agung, sebagai tanda dimulainya pembagian tumpeng songo tersebut, Rabu (28/6).
Jama’ah pengajian dan warga tampak tertib menunggu kedatangan tumpeng beserta gunungan aneka buah dan sayuran hasil bumi. Dan dengan sabar mengikuti pengajian serta pembagian nasi tumpeng songo. Meskipun demikian pihak panitia menyiapkan nasi untuk dibagikan karena tumpeng tidak mencukupi untuk ribuan orang yang ada di halaman masjid. Untuk mengawal dan mengamankan tumpeng songo ini melibat kurang lebih 500 personil gabungan dari TNI/POLRI, Satpol PP, Banser.
Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Demak HM Afief Mundzir selaku Ketua Penyelengggara Tumpeng Songo menyampaikan, iring-iringan Tumpeng Songo merupakan rangkaian perhelatan besar Grebeg Besar Demak yang rutin diadakan sehari sebelum Idul Adha. Tumpeng berjumlah sembilan lengkap dengan lawuh ingkung ayam ini wujud ungkapan syukur Bupati Demak untuk dibagikan masyarakat.
Bupati Eisti’anah pada kesempatan menghimbau agar masyarakat tidak perlu berebut untuk mendapatkan tumpeng tersebut.
” Sudah disiapkan ribuan nasi tambahan yang nantinya akan di bagikan kepada masyarakat. Sehingga harapannya masyarakat ini tidak akan berebutan untuk mendapatkan tumpeng,” Kata Eisti
Sebelum tumpeng utama dipotong oleh bupati di dahului dengan do’a bersama dan pengajian umum grebeg besar Idul Adha. Dengan menghadirkan Mubaligh K.H Amin Maulana Budi Harjono dari Semarang. Adapun tema pengajian ‘Semangat Berkurban Untuk Kesejahteraan Bersama’. (*)









